≡ Menu

Supension, banyak waktu dong, ya?

Itu pertanyaan yang saya sering dengar dari teman, begitu mereka tahu saya sudah pensiun.

Ah, nggak juga! Jawab saya.

Lalu kamu ngapain saja setiap hari?

Jadi ‘bapak rumah tangga’, bantui Winnie yang lagi sakit.

Oh, dan percakapan pun berganti arah.

Tapi pertanyaan ini mengingatkan saya akan suatu hal tentang pergantian status menjadi seorang ‘bapak rumah tangga’ alias BRT yang full time.

Semenjak berganti status sebagai BRT, saya sering berpikir. Bagaimana ya, para ibu rumah tangga atau IRT mengatur waktu mereka sehari-hari? Soalnya, sudah kerja sehari-penuh, sampai larut malampun kerjaan di rumah rasanya tak pernah bisa selesai.

Tahun ini kami memasuki 40 tahun dalam perjalanan keluarga kami. Selain 8 tahun waktu kami tinggal di tanah air, selebihnya 4 tahun sebagai mahasiswa di Jepang, dan 28 tahun menjadi mahasiswa dan bekerja di Amerika, atau total selama 32 tahun ini kami hidup tanpa pembantu rumah tangga seperti waktu 8 tahun kami tinggal di Indonesia.

Baik di Jepang maupun di Amerika, hampir seluruh waktu saya pusatkan buat pekerjaan di luar rumah, berarti setiap urusan di rumah menjadi tanggung jawab penuh Winnie.

Nah, setelah gerakan fisik Winnie mulai susah gara-gara sakit, sudah setahun lebih saya mulai mengambil alih semua kegiatan yang selama ini diurusi Winnie dan saya yang melakukan semuanya, kecuali apabila pembantu yang dikirim anak-anak untuk membantu kami empat kali seminggu sedang di rumah.

Belanja, masak, cuci piring, cuci pakaian, akhirnya bisa saya kerjakan juga.

Di saat-saat itulah sering muncul pertanyaan, bagaimana ya Winnie tak pernah sekalipun mengeluh selama lebih dari 32 tahun kami tak punya pembantu. Apalagi di saat anak-anak masih di rumah, dan Winnie masih kerja di luar juga.

Kalau sudah pikir begini, saya jadi malu sendiri. Dan sekarang saya jadi mengerti, kenapa waktu di program pasca sarjana dulu, Profesor pembimbing saya menyuci piring setiap ada pesta di rumahnya bukanlah sesuatu yang aneh!

Tugas rumah seharusnya ditanggung bersama, bukan tanggung jawab seorang ibu melulu. Nah, apalagi yang menangani itu hanya seorang ibu rumah tangga atau seorang bapak rumah tangga, karena kondisi salah satunya tak bisa membantu, atau karena keluarga itu hanya keluarga single parent, maka pertanyaan apakah banyak waktu luang mungkin agak salah tempat.

Tapi ah, ini mungkin hanya berlaku buat mereka yang tinggal di luar negeri dan tak sanggup menggaji pembantu. Bagaimana pendapat anda, baik ibu maupun bapak rumah tangga?

 

{ 2 comments… add one }
  • Loh Rabma June 5, 2016, 10:13 pm

    Terimakasih dgn tulisan anda, shg punya waktu untuk flashback ke masa2 dulu waktu kita sama2 tinggal di sapporo. Saya hanya ingin komentar mengenai cuci piring. Buat saya dlm umur yg makin dekat dgn kepala 7, cuci piring itu adalah olahraga otak(olahraga untuk lima pancaindera kita) Jadi sangat2 menyenangkan sekali. Saya enjoy sekali cuci piring, krn itu adalah olahraga indera buat aku.

    • drt June 5, 2016, 11:48 pm

      Makasih Han! Iya-ya, itu termasuk olahraga otak, dan olahraga badan juga!

Leave a Comment