≡ Menu

Rindu d’Hening Malam (2)

Pada bagian akhir postingan sebelumnya, saya sertakan dua tautan yang setelah 13 tahun ternyata tidak bisa diakses lagi.

Keduanya adalah tautan berisi tulisan-tulisan yang Pro dan Kontra penggunaan kata Chuang (床) dalam puisi Li Bai yang telah saya terjemahkan, bukan sebagai tempat tidur atau yang sama maksudnya, tetapi harus dianggap sebagai pagar perigi (sumur), masing-masing dengan berbagai alasan pendukungnya.

Saya sebagai pembaca asing di sini, sebenarnya harus bersifat netral. Tapi sebagai orang yang terdidik dalam bidang fisika, saya tidak bisa begitu saja menerima bahwa kata shuang (霜) yang dalam bahasa Inggris disebut frost, dan bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai embun beku, bisa terbentuk di lantai dalam kamar tidur.

Pengalaman 30 tahun lebih tinggal di negeri empat musim, termasuk delapan tahun lebih di negeri salju, membuat saya mengerti benar apa itu shuang, frost atau embun beku. Pembentukan kristal es di tanah, rerumputan, gelas jendela, atap dan lain-lain adalah hal biasa yang bisa dilihat di musim dingin. Tapi frost atau embun beku di lantai depan tempat tidur hampir tak mungkin terjadi dari sudut ilmu fisika, karena di negeri empat musim, tak ada orang normal yang akan tidur di daerah terbuka yang bisa ada embun beku. Ringkasnya, kalau sampai terbentuk embun beku di lantainya orang itupun bisa mati beku saking dinginnya. Bagaimana mau bangun dan berpuisi? Oleh sebab itu saya cenderung mengikuti pendapat bahwa chuang di sini adalah sesuatu yang berada di luar rumah, sehingga pagar sumur atau perigi menurut saya lebih tepat. Ada juga pendapat lain memgenai kursi beralas kain atau kulit yang bisa dilipat, tapi saya biarkan itu sebagai catatan saja.

Itulah sebabnya saya senang sekali membaca judul postingan di situs NTD Television dengan judul yang agak berani ini:「床前明月光」竟被誤讀了千年!(Sila klik!) Kalau diterjemahkan, artinya, Bulan terang di depan ranjang sudah terlanjur disalah-bacai (tafsiri) selama ribuan tahun!

Sayangnya, walaupun situs NTD Television menyediakan pilihan untuk memilih versi Bahasa, tapi saya tidak bisa membuka laman berbahasa Indonesia itu. Pilih bahasa Inggris juga saya tidak bisa temukan versi Inggris tulisan di atas. Maka saya mohon maaf saya hanya bisa menyampaikan kesimpulan saya saja buat para pembaca, karena saya tidak punya waktu menterjemahkan artikel itu. Saya hanya menambahkan postingan ini untuk menekankan pendapat saya, mengapa sejak saya terjemahkan puisi di atas 13 tahun yang lalu, saya memilih kata pagar perigi bukan ranjang atau dipan dan sebangsanya. Saya setuju sekali dengan postingan di NTD Television atas dasar fisis pembentukan embun beku.***

Terima kasih.

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment