≡ Menu

Rindu d’Hening Malam (1)

Ini postingan saya dari situs Terjemahan lama saya yang saya copykan isinya ke sini. Saya sertakan juga berbagai komentar yang saya terima setelah saya postingkan terjemahan ini di salah satu yahoogroup saat itu. Yang saya ubah hanya format halaman dan tata-letak gambarnya. Lainnya tak saya ubah. Semua referensi yang saya pakai ternyata setelah 13 tahun tak bisa diakses lagi, sehingga saya harus cari referensi baru yang akan saya postkan setelah ini. Berikut ini postingan aslinya:

Hari ini (05/26/2004 ) saya tambahkan terjemahan dari 静夜思 (Jing Yue Si) atau Rindu d’Hening Malam-nya Li Bai. Sajak ini sangat populer, bahkan dalam perayaan ulang tahun Li Bai di kampung halaman keduanya di Sicuan, penduduk sekota sama-sama menguman- dangkan sajak ini sewaktu pembukaan pesta. Ada yang mengatakan bahwa sajak ini ditulis di tahun 727M di Anlu, Hubei. Waktu itu Li Bai baru berusia 26 tahun.

Li Bai yang saya pakai dalam postingan pertama,

Paling tidak ada dua versi yang beredar. Satunya yang seperti di sini, satunya lagi, judulnya cuma dua huruf. Kata jing4 dalam judul ini yang berarti diam, tenang, sepi, dibuang, sehingga judulnya hanya terdiri atas dua huruf ye4 si1 atau Rindu Malam yang tentu saja berarti “Rindu di malam hari.” Selain itu kata ming2 yue4 atau bulan terang diganti dengan kata shan1 yue4 atau bulan di gunung.

静夜思

床*前明月光,Cahaya rembulan depan pagar perigi*
疑是地上霜。Sudahkah embun beku, menutupi bumi
举头望明月,Dongakkan kepala, ternyata terang bulan
低头思故乡。Begitu menunduk, rindu kampung halaman

***

*Untuk waktu yang lama, orang menganggap kata chuang2 (床) di dalam sajak ini maksudnya tempat tidur. Tapi berkat penelitian seorang peneliti di Museum Nanjing beberapa tahun lalu, akhirnya disimpulkan bahwa chuang2 disini maksudnya pagar tembok yang melindungi perigi, bukan tempat tidur seperti yang dipakai selama ini dalam menjelaskan sajak ini.

Gambar dari buku Tangshi Sanbai Shou, Jinghua Publ. p. 433

Dalam bahasa aslinya, keindahan sajak ini terletak pada fakta bahwa hanya dengan 20 huruf sederhana yang diangkat dari sekeliling, Li Bai sanggup melukiskan kesunyian di malam terang bulan simgugur. Kata sudahkah di baris kedua dalam terjemahan ini sebenarnya berarti curiga. Namun untuk pertahankan bentuk aslinya dalam 20 kata, saya memakai kata “sudahkah” untuk mengungkapkan keraguan-raguannya itu. Karena begitu melihat tanah di depan pagar sumur yang keputihan, dia curiga apakah cuaca sudah begitu dingin dan embun beku sudah mulai menyelimuti tanah? Tapi begitu dia mendongak, terlihat rembulan terang benderang di langit dan sadarlah dia kalau itu bukan embun beku. Namun begitu dia menundukkan kepala, rindu akan kampung halaman pun datang mengusik.

Keduapuluh huruf ini kemudian hari terangkum dalam empat huruf 望月思鄉, atau “menatap bulan rindu kampung.” Walaupun kata wang yue terdiri dari dua huruf wang berarti menatap dan yue bulan, namun kedua kata ini digabung juga berarti bulan purnama, sehingga ungkapan ini juga bisa berarti, “bulan purnama rindu kampung.” Seorang pelukis cilik melukiskan keempat kata itu dalam lukisan tradisional Tiongkok seperti yang terlihat di samping ini.

Terima kasih atas segala komentar dan koreksi. Juga terima kasih buat Herman Ardiyanto dan teman-teman yang sudah berikan komentar, termasuk yang saya kutip di bawah ini:

Rinto Jiang: “Melihat gambar yang anda kirimkan, memang Li Bai sepertinya duduk di halaman rumahnya bukan di kamar tidurnya. Jadi otomatis “Chuang” menunjuk ke sesuatu di luar rumah, bukan tempat tidur.

Bagaimana kalau saya meng-interpretasi-kannya sebagai tempat duduk (kursi) yang diduduki Li Bai di halaman rumahnya dan bukan pagar perigi? Karena seingat saya, Du Fu pernah menyebut “Chuang” sebagai tikar/tempat duduk di zaman yang sama.”

Sujarat: “Chuang” mempunyai arti sebagai tempat tidur, tapi pada saat dinasti 唐 juga mempunyai arti “sumur gali”

Buat yang tertarik menyelidiki urusan ini lebih jauh, ada dua situs yang pro dan yang kontra mengenai soal ini. Cuma maaf, keduanya dalam bahasa Tionghoa.

Selamat menikmati, dan sekali lagi, segala komentar, kritik dan saran saya terima dengan senang hati!

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment