≡ Menu

Muhammad Ali, Parkinson, Arief Budiman dan Pesta Kaum Urakan

Kemarin di TV, terlihat berita kalau Muhammad Ali masuk rumah sakit, disusul berita kematiannya di berita malam. Inna Lilahi waina ilaihi raji’un.

Saya bukan pecinta boksen, dan ingatan saya yang paling membekas tentang Ali adalah pertandingan Ali vs Inoki di pertengahan tahun 70an, serta mulut besarnya Ali setiap muncul di TV.

Ali vs Inoki, 1976.

Ali vs Inoki, 1976.

Waktu itu saya masih mahasiswa tingkat akhir di UGM, dan seingat saya kami anak kost pada ikut berdesakan di rumah kostbas saya, menonton pertandingan itu lewat TV hitam putih.

Sewaktu sudah di Amerika, kadang suka melihat Ali muncul di TV. Ada beberapa mantan atasan saya di sebuah perusahaan pertama yang mempekerjakan saya di Amerika yang tidak terlalu senang dengan Ali. Fasalnya mereka adalah veteran perang Vietnam dan mereka tidak suka dengan kelompok anti perang atau mereka yang menghindari diri dari wajib militer.

Tapi ada suatu hal yang membuat saya tertarik pada Ali belakangan ini. Dia adalah seorang penderita penyakit Parkinson. Beberapa tahun terakhir melihat dia di TV, ada saja bagian tubuhnya yang tampak gemetar atau bergoyang.

Setelah mengamati penyakit Parkinson selama beberapa tahun terakhir ini dari jarak dekat, saya jadi menyadari kalau efek Parkinson buat setiap orang itu berbeda-beda.

Sumber foto: Suara Merdeka

Sumber foto: Suara Merdeka

Arief seingat saya sudah lama menderita Parkinson. Dari foto yang saya temukan di Suara Merdeka ini, tampaknya dia sudah jauh berbeda dengan ketika saya mampir ke Salatiga di akhir tahun 1985, dan menemuinya di Universitas Kristen Satya Wacana, atau setelah kami sama-sama bekerja di sana.

Seingat saya dalam suatu pertemuan kami sebelum kepergian saya dari Jakarta ke Jawa Tengah itu, bung Julius Siyaranamual yang mengusulkan saya untuk menemui Arief di sana, serta mengingatkan saya, kalau Rektor UKSW waktu itu, Dr. Willi Toisuta adalah orang Kupang.

Sebelum ketemu lagi di Salatiga, saya pernah ketemu Arief di Pesta Kaum Urakannya mas WS Rendra di Pantai Parangtritis. Arief waktu itu sedang bersama Asmara Nababan, dan mereka sedang jalan menyusuri pantai dan sempat mengamati telur katak di sebuah kolam kecil di pantai Parang Tritis waktu kita bertemu. Telur katak itu bagaikan benang hitam yang panjang yang menarik perhatian dua tokoh dari Jakarta itu. Di malam sebelumnya, seingat saya Arief berceramah buat para peserta Pesta Kaum Urakan mengenai bukunya Erich Fromm, ‘The art of Loving.’

Nah, di saat bung Asmara tahu kalau saya asal Timor, dia lalu bercerita kepada saya tentang bung Julius Siyaranamual, partner-nya di majalah anak-anak Kawanku. Ternyata di kemudian hari, gara-gara ceritera di pertemuan yang tak sengaja di Pesta Kaum Urakan itu, ada pengaruhnya pada berbagai kejadian yang sempat menentukan jalan hidup saya. Itu sebabnya judul yang semula untuk mengucapkan selamat jalan buat Muhammad Ali ini, akhirnya berubah menjadi judul di atas.

Ringkasnya, tahun berikut setelah Pesta Kaum Urakan di Parangtritis, saya bertualang ke Jakarta. Yang mengilhami kepergian saya ke Jakarta ini adalah ceritera-ceritera almarhum mas Bakdi Soemanto yang waktu itu adalah tetangga kami di Asrama Timor di kawasan Demangan Baru, Yogyakarta. Mas Bakdi adalah seorang mentor yang sudah lebih dari seorang kakak buat saya.

Kepergian saya ke Jakarta juga meniru cara mas Bakdi, hanya membawa satu mesin ketik portable merek Brother, satu ransel berisi pakaian, dan uang yang cukup untuk beli karcis kereta.

Di Jakarta saya langsung menuju ke Jl. Gereja Theresia, ke Balai Budaya, lalu meminta izin sama Arief Budiman agar boleh menginap di sana di malam hari. Yang menjaga Balai Budaya saat itu, kalau tak salah ingat, namanya Nasjah Djamin Nashar. Saya tidur di bangku panjang yang ada di ruang depan. Nasjah Nashar yang batuk terus di malam hari itu tidur di kamar di sisi kiri ruangan Balai Budaya. Besok pagi saya membawa sebuah cerpen mencari Redaktur Sinar Harapan, dan ketemu dengan mas Satyagraha Hoerip. Begitu tahu saya dari Timor, beliau menyuruh saya kembali saja jam 3 sore nanti, biar ketemu Redaktur Sinar Remaja yang juga orang Timor. Namanya Julius Siyaranamual. Wah!

Sewaktu tahu saya menginap di Balai Budaya, bung Julius lalu mengajak saya tidur di rumahnya.  Teman kelas saya, almarhum Daddy Tanggela, yang juga teman belajar saat ujian akhir di SMA, tinggal bersama bung Julius.

Gara-gara menginap di rumah bung Julius Siyaranamual itu pula, saya temukan alamat rumah seorang penulis muda yang suka mengirim tulisan ke rubrik Sinar Remaja yang bung Julius asuh di Harian Sinar Harapan. Tulisannya ada dalam tumpukan naskah yang harus dipilih bung Julius. Haha, nama dan alamatnya saya hafal mati, dan di kemudian hari, dia berubah menjadi pacar saya, sampai akhirnya sekarang sudah menjadi mantan pacar saya. 😀

Itu kejadian di tahun 1971.

Fast forward ke tahun 1985. Saya sudah pulang dari Jepang dan akhirnya bisa mengajak Winnie dan anak-anak pindah ke perumahan Jaka Sampurna di Bekasi.

Suatu hari saya pergi menemui seorang doktor lulusan Jerman, alumni Fisika UGM di sebuah universitas swasta di Jakarta. Saya tanya kepada beliau, apakah ada kemungkinan untuk menjadi dosen peneliti di sana? Beliau tertawa. Kamu kan cuma punya Master! Tak usah bicara soal penelitianlah. Saya saja yang punya doktor dari Jerman saja tak bisa buat apa-apa di sini koq. Sebagai lulusan Jepang dengan penekanan di bidang penelitian dan publikasi di jurnal ilmiah, jawaban itu membuat saya patah hati.

Saya tak ingat kapan pertemuan dengan bung Julius lagi. Tapi ketika saya mengungkapkan kekecewaan saya soal posisi dosen peneliti yang mau saya lamari, dia bertanya, kenapa tidak coba ke Salatiga saja? Di sana ada Arief Budiman dan Rektornya, Dr. Willi Toisuta, berasal dari Kupang. Maka sekitar bulan Oktober 1985, saya mampir ke Salatiga dengan tujuan, bertemu dengan Arief Budiman dan Rektor Toisuta.

Pertemuan sore itu di rumah Arief hanya untuk mengingatkan Arief, di mana kita pernah bertemu selain pertemuan singkat pertama, saat dia mengizinkan saya bermalam di Balai Budaya itu. Saya tak ingat apakah Arief masih ingat akan pertemuan pertama, tetapi dia sangat terkesan atas hasil publikasi ilmiah di Jepang yang sengaja saya bawa dari Jakarta.

Setelah melihat kredensial saya, dan tahu apa tujuan saya ke UKSW, Arief anjurkan saya bertemu pak Willi Toisuta. Begitu ketemu, jelaskan siapa saya, pak Willi dengan tangan terbuka menyuruh saya untuk mengajukan lamaran menjadi dosen di Fakultas Teknik Jurusan Elektro UKSW. Seperti Pos Kilat Khusus saja, di malam Natal 1985, saya sudah memboyong Winnie, Albert, Riki dan Ken pindah ke Salatiga. Setelah itu, kata orang sini, the rest is history! Itu sudah sejarah, dan sekarang semua itu tinggal kenangan.

Tapi kepergian Ali ini juga membuat saya mengenang Arief, apalagi setelah menyaksikan sendiri dari dekat, bagaimana Parkinson ini merongrong kesehatan seseorang.

Berapa tahun lalu, saya pernah menyaksikan ketika seorang penderita Parkison bernama Lorena Geist berdiri di hadapan 20ribu orang mengisahkan bagaimana suatu supplement merubah situasi kesehatan dari seorang nenek penderita Parkinson, dan mengurangi berbagai simptom sehingga dia bisa membawa segelas air dari meja makan ke ruang tamu tanpa tumpah seperti sebelumnya. Saya coba menghubungi Arief tapi gagal.

Setelah mengenali penderita Parkinson dari jarak dekat, baru saya sadari efek Parkinson buat setiap orang itu beda-beda. Obat, cara pengobatan atau supplement yang berguna untuk seorang penderita, belum tentu cocok untuk penderita lain.

Seorang teman di dumay bernama Lexie, bisa mengurangi berbagai simpton Parkinson dengan memakan obat anti narkotik dalam dosis rendah, yang nama Inggrisnya adalah Low Dose Naltrexone atau LDN. Kisahnya bisa dibaca di buku ini.

Seorang teman lagi di dumay bernama Bianca Molle bisa terbebas dari Parkinson, setelah berlatih Zhineng Qigong. Kerja keras setelah 18 bulan berlatih Zhineng Qigong selama beberapa jam sehari itu akhirnya membuahkan hasil, dan Bianca terbebas dari Parkinson, seperti bisa dibaca dalam buku ini.

Dan kalau mau dicari, masih ada beberapa buku lagi tentang kesembuhan dari Parkinson yang oleh sebagian besar dokter dianggap tidak mungkin.

Hari ini waktu menyadari kepergian Ali, saya ingat semua urusan itu. Saya juga ingat, bagaimana pertemuan di Pesta Urakan dengan Arief dan Asmara Nababan sempat merubah perjalanan hidup kami. Sebelum Arief ke Australia dan saya ke Amerika, saya pernah bersama Arief dkk duduk dalam Tim Redaksi majalah ‘Kritis’ yang menjadi majalah ilmiah UKSW waktu saya masih di sana. Walaupun secara ideologi kami berbeda pandangan, paling tidak menurut saya, di saat-saat seperti ini, saya selalu ingat Arief juga dan pengin sekali untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Dari apa yang terbaca di harian Suara Merdeka di atas, ini yang saya tahu:

Kesehatannya semakin buruk dan lebih banyak tergantung pada obat serta terapi kesehatan. ‘’Beliau menderita parkinson genetis dari pihak ibu. Sejak 20 tahun lalu tangan kirinya akan gemetar dalam posisi tertentu,’’ ungkap sang istri Leila kepada Suara Merdeka yang berkomunikasi melalui Whatsapp. Arief Budiman sejak 20 tahun terakhir juga tidak lagi bisa membuka email. Sejak 10 tahun lalu sudah tidak lagi mengajar karena pensiun.

Makanya, sambil mengucapkan selamat jalan buat Muhammad Ali, saya mengingat Arief dan semua penderita Parkinson. Saya hanya berdoa, semoga mereka tabah seperti Ali dalam menghadapi dan mengarungi hidup mereka ini. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Semoga Tuhan memberkati!

{ 7 comments… add one }
  • Belinda Gunawan June 5, 2016, 5:13 am

    Aris, saya pernah serumah dengan penderita Parkinson, yaitu almarhum ayah mertua saya. Seingat saya, beliau tersendat ketika berjalan. Setelah terhenti, lama baru bisa berjalan lagi. Lalu abang ipar saya di Australia (keturunannya) juga menderita Parkinson dengan gejala yang persis sama. Saya tidak tahu bahwa gejala penyakit ini individual dan obat untuk mengatasinya juga berbeda-beda. Trims buat infonya ya, Ris. Semoga Winnie bisa mengatasinya dengan baik.

    • drt June 5, 2016, 12:38 pm

      Betul mbak Belinda. Itu salah satu symptom PD seperti yang diuraikan di situs Mayo Clinic ini. Dari ceritera di Grup Pendukung PD di sini maupun dari berbagai supporting groups di Internet, termasuk FB, mereka selalu tekankan kalau reaksi setiap orang itu berbeda. Lexie yang memakai LDN bisa berguna bagi dirinya, tapi tidak semua yang mencoba LDN berhasil. Dari pengamatan kami, Zhineng Qigong sangat membantu penderita bradykinesia ini. Cuma seperti Bianca Molle, dia ternyata berlatih 3 jam sehari selama 18 bulan sebelum dia sembuh benar. Tapi dia mendapat reaksi negative dari dunia lain seperti yang bisa dibaca di sini. Buat kebanyakan orang menyisihkan waktu satu jam sehari saja susah. Kecuali yang kebelet seperti Reinier Bosch yang sudah divonis mati karena kanker dalam waktu yang tak begitu lama lagi, dan bukannya cuma 2 atau 3 jam, tetapi sehari dia habiskan 8 jam. Terima kasih buat doanya untuk Winnie

  • Radius Tanone June 5, 2016, 6:27 am

    Tulisan yg berkesan empe. Tulisan ini membuat beta jadi tau gambaran umum perjalanan empe masuk dan berkarya di UKSW. Tulisan ini juga membuat beta jadi punya keinginan untuk lebih banyak tahu tentang parkinson.

    • drt June 5, 2016, 12:41 pm

      Ok, Rad. Makasih sudah mampir.

  • drt June 8, 2016, 11:10 am

    Ternyata ingatan saya tidak benar. Pagi ini bangun tidur, tiba-tiba ingat yang menjaga dan menginap di Balai Budaya itu sepertinya bernama Nashar. Maaf atas kekeliruan saya menuliskan nama Nasjiah Djamin yang juga seorang pengarang dari abad lalu.

  • Jeanne Doko February 22, 2017, 12:26 am

    Info baru buat beta ; yg beta tau Parkinson cuma gangguan ditangan/ gemetaran kalu pegang apa2 susah, air digelas goyang2 sampe tumpah, ternyata amat mengganggu kaki u/ jalan apalagi hampir lumpuh. Semoga Zus Winnie tabah menjalani Qigong ini dan bisa sembuh total.Ben mau coba juga, walau saat ini jalan nggak ada masalah, balance nya juga baik, cuma gangguan speech masih ada & kata2 ada yg sedikit ngaco kalu konversasi, kalau nulis lebi baik dikit. Mudah2an terbantu dgn latihan2 ini. Thanks Bung Aries…nite, nite !

    • drt February 22, 2017, 12:37 am

      Tante Jeanne,

      Terima kasih sudah mampir. Kalau untuk om Ben mungkin perlu info gratis dari Pak Peter Wu di Jakarta dalam postingan berikut dan perlu juga melihat testimonial orang Jakarta yang beta taruh linknya di sana. Makasih buat doanya. Semoga bermanfaat.

Leave a Comment