≑ Menu

Maju Kena Mundur Kena

Beberapa hari lalu di FB, mantan editor majalah GADIS, Ayah Bunda dari FEMINA Group, maupun penulis kondang, mbak Belinda Gunawan yang rajin mengisi di FB dengan catatan menarik dan sering diusulkan oleh pengikut setianya untuk dibukukan, sempat menyatakan keheranannya. Dari catatan itu kita baca kalau ada pejabat yang duduk di samping mbak Belinda saat acara bedah buku ‘Rahasia Evalina’ sempat heran, kalau mbak Belinda bisa menuturkan kisahnya dalam buku yang sedang dibedah itu dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Keheranan mbak Belinda tidak ada konotasi jelek, dan juga mbak Belinda bisa memaklumi kenapa hal itu terjadi, walaupun seperti di kalimat pembuka, mbak Belinda sang Editor yang juga sarjana sastra lulusan Universitas Indonesia tentu saja tidak akan mengalami kesulitan menulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Lahir di Indonesia, dari SD sampai Universitas sekolah juga di sekolah Indonesia, mau pakai bahasa apa lagi? Memangnya harus pakai, pinjam istilahnya, bahasa ‘wo ai ni’ yang mbak Belinda sendiri tak fahami walaupun mbak Belinda kelihatan dari fotonya jauh lebih totok dari saya?

Jadi intinya keheranan itu timbul akibat latar belakang kalau mbak Belinda adalah seorang Tionghoa Indonesia.

Tapi setelah membaca postingan itu, dan sempat merenungkannya beberapa waktu, akhirnya saya sampai pada kesimpulan, nggak apalah kalau cuma dikomentari begitu oleh pejabat itu. Saya ini dalam urusan yang melatarbelakangi komentar di atas juga mengalami berbagai pengalaman yang jauh lebih, kalau saya bisa pakai kata ini, — parah — dari apa yang dialami mbak Belinda. Dalam kasus mbak Belinda, pejabat itu cuma mengungkapkan rasa kagumnya. Koq bisa ya ada keturunan Tionghoa yang menulis novel dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar? Kalau yang saya alami jauh lebih parah, karena menurut saya, maju kena mundur kena. Saya merasa saya bisa ditembak dari kedua belah fihak.

Bayangkan, waktu masih di Timor, ke pelosok mana pun saya pergi, saya akan dipanggil ‘babah’ yaitu panggilan buat anak laki atau lelaki dewasa keturunan Tionghoa. Padahal seperti saya ini sudah merupakan generasi keempat yang lahir dan menetap di Timor. Karena banyaknya perkawinan campur dengan suku-suku di Timor, banyak di antara sanak famili maupun kenalan saya di Timor, terdapat mereka yang disebut ‘Hitaci’ alias Hitam tapi Cina, atau ‘Kritaci’ seperti saya yang ‘Kriting tapi Cina’.

Pertama kali saya ke Jawa, tak banyak yang tahu kalau saya itu Kritaci dan fasih dalam membaca dan menulis huruf Tionghoa. Saya pernah sekolah sampai SMP kelas 2 ketika sekolah Tionghoa Kupang ditutup di tahun 1966 setelah malapetaka nasional di tahun sebelumnya.

Yang sering saya perhatikan, ada semacam perasaan rendah diri masal yang dialami komunitas Hitaci atau Kritaci ini. Papa saya tidak terlalu tampak sebagai Hitaci atau Kitaci, tapi dia juga punya perasaan rendah diri yang memicunya, agar anak-anaknya tidak sampai seperti dia. Mereka semua harus bisa berbahasa Tionghoa. Fasalnya, papaku punya dua orang ibu. Ibu tirinya istri pertama engkong saya, seorang wanita Tionghoa. Sedangkan ibu kandungnya,istri keduanya engkong saya seorang putri Timor yang mewariskan kami nama keluarga Tanone ini. Sedikit ceritera mengenai leluhur ini pernah saya taruh di sini. Dua kakak tiri dan seorang kakak kandung setelah meninggalkan Timor tidak kembali lagi. Yang satu tinggal di Banyuwangi, saudara kandung papa saya meninggal di Jember, dan satu lagi kakak tiri papa saya menjadi guru sekolah tionghoa di Flores. Nenek saya tak izinkan papa saya sekolah ke Jawa atau ke Tiongkok seperti ketiga saudaranya. Papa saya sangat terpukul karena dia tidak bisa berbahasa Tionghoa seperti teman-teman sebayanya. Padahal, papa saya cepat sekali belajar bahasa. Ketika tahun 59 kami pindah ke rumah yang masih ditinggali adikku sekarang, papaku langsung bisa berbahasa Helong, yaitu bahasa yang dipakai penduduk Pulau Semau di teluk Kupang. Ketika kami tanyakan, papa berceritera bahwa di masa mudanya, beliau bekerja sebagai pembayar para penyelam dari Pulau Semau yang menyelam untuk mencari mutiara bagi perusahaan Australi atau Belanda di Kupang. Saat itu beliau memungut bahasa Helong yang bisa beliau pakai sampai akhir hayatnya.

Saya sendiri merasa beruntung karena perasaan rendah diri akibat tak bisa bahasa Tionghoa itu. Di tahun 1957, beliau pindahkan kami ke Kupang agar bisa masuk sekolah Tionghoa. Beberapa bulan kemudian berlaku PP-10, dan sekolah Tionghoa yang ada di kota kami, Soe, ditutup. Berkat bahasa Tionghoa itu maka waktu belajar bahasa Jepang saya cepat sekali bisa berkomunikasi.

Kembali ke urusan semula. Ceritera yang ringan seperti begini. Pernah waktu keluar dari toko di daerah sebelah selatan Gondomanan di Yogya di awal tahun 1970an, ada Seorang penjaga toko yang bertanya dalam bahasa Tionghoa kepada seorang penjaga lain, ‘huan le mei you?’ (Sudah bayar belum?). Mendengar pertanyaan itu saya balik dan bilang, ‘huan le!’ (Sudah bayar!)

Anda bisa bayangkan wajah tacik penjaga toko itu melihat si Kribo di depannya koq menjawab dia dalam bahasa yang dia pikir pengunjung tokonya tidak mengerti.

Berapa tahun itu rambut saya memang saya biarkan gondrong dan banyak teman yang suka panggil saya, Jimmy Hendrick, penyanyi orang hitam. Sayang saya tak punya suara seperti Ucok Simanungkalit, kalau nggak lagu-lagu yang saya bawakan menurut pendapat saya pasti Menarik juga karena saya bisa mengerti arti setiap huruf dalam lagu-lagu itu tanpa menunggu terjemahan orang lain. Tapi tentu saja saya tetap salut kepada kemampuan pak Ucok dalam membawakan lagu-lagu itu, kadang pakai logat Hokkian atau Hakka juga.

Yang agak berat mungkin seperti ceritera ini. Ketika mulai mau pacaran semasa kuliah, saya pernah menaksir seorang teman kuliah. Gagal, dan setelah hampir empat puluh tahun kemudian baru saya tahu, kalau alasan kegagalan waktu itu, seperti yang saya dengar dari seorang teman kuliah yang tahu urusan kami saat itu, betul-betul mengagetkan.

Waktu itu saya pikir kalau dia dilarang orang tuanya mungkin setelah melihat foto saya dari pesta urakan di Parang Tritis. Ternyata saya salah duga. Rupanya mantan teman yang saya taksir itu pernah bilang ke teman-teman dekat dia, alasan yang sangat rasis menurut ukuran masyarakat sekarang. Hahaha, waktu saya bacakan, Winnie cuma bilang: ‘Nggaklah, nggak rasis. Itu memang begitu zaman itu. Dan aku yang beruntung,….’😍

Foto bersame papa mamaku saat kami menikah,

Ketika saya sempat posting foto kawin kami di Facebook setiap anniversary kami sejak beberapa tahun lalu, seorang mantan mahasiswa yang pernah jadi asisten kuliah waktu saya mengajar di Salatiga dulu sempat bertanya, koq bisa ya orang tuanya Winnie izinkan?

Mikir sampai sini tiba-tiba saya bilang pada Winnie, saya sudah temukan judul buat novel tentang surat-surat cinta kita.

‘Cinta pada surat pertama,’ atau dalam bahasa Inggrisnya mungkin jadi ‘Love at first letter.’ Iya benar, ada kaitan dengan Cinta di pandangan pertama atau Love at the first sight. Tapi benaran deh, saya pikir kalau kita ketemu duluan, mungkin nggak bakalan jadi.

Memang ada yang akan bilang ini yang namanya jodoh. Tapi saya dan Winnie jadi geli ketika saya bilang, kalau kita tidak langsung jatuh cinta waktu menerima surat pertama kita masing-masing, mungkin dia juga akan takut dan menjauh kalau ketemu si kribo ini. Untung deh, sudah jatuh cinta dulu lewat surat sebelum ketemu gara-gara sebuah kalimat yang sangat unik dalam surat balasannya. Mungkinkah itu ya yang disebut cinta itu buta,….

Sebelum menerima surat pertama saya, menurut pengakuannya, Winnie memang pernah membaca nama saya lewat berapa tulisan saya di Kompas dan Sinar Remaja. Saya juga pernah membaca tulisan-tulisan Winnie di beberapa surat kabar waktu itu, termasuk di Sinar Remaja. Saya juga ketemu alamat rumahnya gara-gara ketemu kiriman naskahnya waktu melihat berbagai artikel di rumah almarhum Yulius Siyaranamual yang mengasuh rubrik Sinar Remaja. Makanya begitu saya surati dia sudah mengenal nama saya dan dia langsung menjawab, dan jadilah apa yang orang Jawa bilang, tumbu entuk tutup (kotak bambu yang klop dengan tutupnya). Kini sudah 40 tahun lebih, kami masih tetap sama, atau mungkin lebih merekat mengingat kondisi tubuh kami yang makin menua. Itu tidak berarti perjalanan hidup kami berbeda dengan pasangan keluarga lain. Hidup kami juga melewati berbagai rintangan dan cobaan layaknya keluarga yang lain.

Apakah papa Winnie pernah membayangkan bahwa 10 tahun setelah kartun ini terbit, putri kesayangannya bakal pacaran dengan Kritaci seperti anak Irian di komik ini?

Tapi benar, saya masih ingat rasa kaget di mata engsohnya Winnie (istri engkohnya Winnie) tatkala membuka pintu waktu pertama kali saya mencari Winnie ke Solo. Seperti biasanya, kalau ke rumah engkohnya di Solo buat membeli bahan untuk kebutuhan modiste mamahnya, Winnie selalu menumpang mobil pengantar kembang melati milik tetangganya di Pekalongan yang dikirim untuk pabrik teh di Solo. Setelah surat-suratan kami janjian ketemu di Solo, waktu Winnie ke sana. Tapi sore itu saya datang duluan dan mobil kembang yang membawa Winnie baru datang sekitar jam delapanan. Menurut ceritera Winnie di kemudian hari, setelah saya dibilangi kalau Winnie belum datang dan saya pulang ke hotel, engkohnya langsung telpon ke mamahnya, bilang kalau temannya Winnie brindil orangnya. Untung waktu perkawinan mertuaku dulu, perjodohan itu ditentang habis-habisan keluarga mamah mertua, sampai nasib mati hidup mereka juga jadi taruhan. Setiap malam, menurut ceritera, ada gerombolan pemuda asal Hubei kampung leluhur mamah yang keluar membawa pentung dan karung buat mencari papa mertuaku. Tapi dasar kepala batu dan pemberani dua-duanya, mereka akhirnya bisa menikah. Makanya, terima kasih buat almarhum papah dan mamah mertuaku, walaupun banyak gunjingan di sekitar mereka, mereka bilang kalau kedua anak ini saling mencintai, ya biarlah. Makanya sampai hari ini, kami masih di sini.

Nah, itu sebagian kecil dari perjalanan hidupku yang maju kena mundur kena gara-gara aku Kritaci, dan terima kasih buat mbak Belinda karena dari catatan itu saya temukan judul draft novel saya, yang mungkin lebih realistis dibanding judul 791 surat cinta seperti usulan Effi dulu.

Memang kalau kami pikir lagi, apa yang saya ungkapkan di atas tidak menggambarkan seluruh naik turunnya roda kehidupan kami, terutama gara-gara melekatnya nama tiga bunyi yang saya dapatkan ketika saya dilahirkan dahulu. Saya tidak bilang bahwa saya tidak punya kontribusi ke dalam prahara kehidupan kami itu. Ada juga kesalahan langkah yang saya ambil sewaktu masih muda dan ingin maju. Tapi semua sudah berlalu dan sebagai orang percaya, saya yakin semua itu ada maknanya sendiri. Saya yakin, hari ini saya atau kami bisa di sini, karena seperti kata Pengkhotbah, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” Orang sini suka bilang, ‘there is a reason for everything under the sun.’ Dengan tangan terbuka kami menerima suratan ini, dan bersujud penuh syukur akan segala karunia yang sudah kami terima.

{ 6 comments… add one }
  • Belinda Gunawan August 20, 2017, 7:53 pm

    Status saya ‘Heran’ mendapat banyak tanggapan, tapi yang dari Aris inilah yang paling kena dan dalam. Hal ini karena Aris mengalami yang mirip dan tergugah berbagi pengalaman sendiri yang jauh lebih kaya dari pengalaman saya itu. Saya suka sekali membacanya sebab memberi saya lebih banyak insight tentang pasangan Aris-Winnie yang saya kagumi.

    • drt August 21, 2017, 9:08 pm

      Terima kasih mbak Belinda atas penghargaan yang diberikan kepada reaksi saya setelah membaca tulisan mbak Belinda. Terus terang saya tertarik juga akan tulisan berikut yang berkaitan dengan ungkapan ‘sudah selesai dengan dirinhya.’ Sudah lama sejak di Amerika, saya suka pikir, apa toh yang mau saya pamerkan? Seorang bijak pernah bilang, ibarat naik gunung, kamu sudah pernah mencapai puncak. Tapi setelah itu apa? Sudah sampai di puncak cuma menggambarkan kamu telah berusaha sebisamu dan kamu sudah mencapainya. Apakah kamu butuh sebulan, setahun, sepuluh tahun, sudah sampai di atas ya sudah. Pengalamannya sama saja. Kamu telah berusaha dan berhasil mencapai puncak. Tak ada lagi yang perlu disombongkan. Ketika kamu mati nanti, apa yang mengisi kedua tahun itu yang menunjukkan hasilmu. Tahun kelahiranmu dan tahun kematianmu. Apakah kamu sempat berbuat sesuatu untuk orang lain, atau bakal meninggalkan sesuatu untuk orang lain? Atau kamu hanya berbuat sesuatu untuk pemuasan egomu?,… dstnya. Dalam konteks itu saya juga menganggap saya sudah selesai. Tapi dari berbagai reaksi yang saya kerjakan, kadang saya masih merasa apa yang saya ungkapkan di sini. Maju kena mundur kena. Ada bagian yang terlupa tak sempat masuk. Yang paling menyedihkan di zaman mahasiswa itu, bila ada teman yang bilang, ‘oh, ternyata kamu Cino toh?’ Tapi seperti wajah penjaga toko yang tanya kalau saya sudah bayar waktu keluar dari toko, teman-teman dari sisi lain juga tak kurang ketus reaksinya. ‘Kamu brindil begini koq bisa mengerti bahasa wo ai ni itu dari mana?’ Setelah di Amerika, masalah si brindil yang bisa bahasa Cina masih mengherankan banyak orang, termasuk reaksi atas posting ini.πŸ˜€ Saya pikir saya sudah selesai dengan diri saya. Tapi mungkin saya salah, mungkin saya hanya menulis semua ini sekedar untuk gagah-gagahan. Saya tak bisa menilai diri sendiri. Semoga berbagai reaksi atas postingan saya membuat saya bisa menghasilkan sesuatu, dengan bantuan teman-teman, yang berguna untuk orang lain. Terima kasih.

  • Benny Tjundawan August 20, 2017, 9:23 pm

    Oh jadi gitu toh, perjalanan cinta asuk berambut kribo. Hehehehehe,,,,,kapan nih rencanan novelnya akan di terbitkan? terbitnya di Indonesia apa di Amerika suk?

    • drt August 21, 2017, 9:13 pm

      Masih belum tahu kapan, Ben. Mungkin setelah pindah dekat dengan anak-anak. Terbit di mana, tak tahu Ben. Tergantung teman-teman editor yang mau membantu. Atau mungkin cukup di blog saja Ben.

      Hey, teruskan tulisanmu di Kompasiana tuh. Siapa tahu lu dapat jodoh gara-gara Kompasiana. 😍😍😍

  • Effi August 21, 2017, 9:28 am

    Hitachi,Kritachi,…Love at first letter. Wow, ndak sabar pingin baca novelnya! πŸ€”

  • drt August 21, 2017, 9:18 pm

    Hehehe, Effi, saya suka pikir, dulu dengan bantuan kamus dan bahan dari web yang masih minim, saya sempat terjemahkan beberapa puisi kuno. Sekarang saya baca lagi terjemahan saya, banyak sekali yang perlu dikoreksi. Saya pikir, mungkin sebelum novel, saya perlu garap berbagai terjemahan yang sempat saya kerjakan seperti bisa ditemukan di sini, lalu dengan bantuan editor seperti Effi dan Emaknya, 😜 mungkin saya bisa publikasikan dulu kumpulan terjemahan berbagai syair kuno seperti yang sudah dinyanyikan Teresa Teng itu, dan banyak lagi.

Leave a Comment