≡ Menu

Jangan Kejar Dia, Tapi Kejar Teman Dia Yang Bisa Membantu

Tidak, ini bukan urusan kejar-kejaran pacar. 😀

Sekitar sebulan lalu, saya melihat ada himbauan untuk mengumpul dana buat operasi tumor seorang anak dari Timor. Setiap kali membaca himbauan seperti ini, hati saya selalu tergugah. Tapi ada satu ungkapan dari ceritera silat yang suka pinjam untuk menggambarkan kondisi saya di saat menghadapi situasi begiini. Ibarat “Patung Bodhisatwa Menyebrang Sungai, Diri Sendiri Sulit dilindungi.” (泥婄萨过江,自身难保)Saya sudah pensiun dan kini harus mengurusi Winnie yang sakit. Saya tidak pada posisi untuk membantu, baik dari segi dana maupun waktu.

Beberapa bulan lalu, ketika membaca kondisi sakit bung Gerson Poyk kian memburuk, saya sempat menulis untuk mengetuk hati teman-teman di Facebook agar bisa membuka dompet dana kemanusiaan buat membantu penalangan biaya bung Gerson. Ternyata setelah postingan saya muncul baru ada pemberitahuan kalau sehari sebelumnya, atas upada teman-teman seperti Dr. Elcid Li dan sdr Noverius Nggili di Kupang, teman-teman sudah melakukan pengumpulan dana itu lewat Internet. Saya sangat bersyukur, walaupun saya sendiri tidak menyumbang melalui saluran itu. Alasannya biaya pengiriman uang dari sini sekitar US$12. Makanya ketika jenazah bung Gerson tiba di Kupang, saya minta adik saya datang melayat. Tanggal 28 Februari adik saya sempat postkan di Facebook waktu dia melayat ke rumah duka.

Dengan kemajuan teknologi, Internet memang cepat sekali menyebarkan berita dan bisa juga dipakai untuk menggalang dana bantuan kemanusiaan seperti yang saya ungkapkan di atas. Coba cari di Google, kata Lukas Mbira, maka anda bisa temukan postingan mengenai upaya kami menggalang dana untuk membantu operasi anak Sumba yang ditemukan tim penginjil dari Singapore, serta beberapa upaya serupa berikutnya di tahun 2005. Jangan lupa klik ke berbagai link di sidebar untuk membaca berbagai postingan saat itu.

Yang ingin saya tekankan di sini adalah, sebaiknya upaya agresif untuk tugas mulia ini tidak mengganggu kenyamanan teman-teman anda. Dalam berbagai tulisan sudah saya ingatkan akan dampak yang dikenal dengan nama, ‘kelelahan menyumbang’. Ini banyak dibicarakan di Amerika setelah berbagai bencana alam berturut-turut, seperti Tsunami di Aceh, maupun berbagai bencana alam lokal di Amerika seperti Hurricane Katrina. Seorang bijak yang mengikuti upaya pengumpulan dana saya dulu sempat bilang, dalam upaya meminta sumbangan itu secara tidak langsung kita memberikan tekanan bathin kepada mereka yang diminta menyumbang. Kita tidak tahu suasana keuangan mereka saat itu. Mungkin mereka tidak pada posisi untuk menyumbang. Permintaan sumbangan dari mereka membuat mereka berada dalam posisi yang tidak enak.

Berikut ini adalah ceritera bagaimana saya akhirnya sampai pada kesimpulan seperti yang diungkapkan dalam judul postingan ini. Jangan kejar dia, tapi kejar teman dia yang bisa membantu.

Waktu ada gempa besar yang menelan ribuan korban di Maumere, Flores, di akhir tahun 1992 yang lalu, saya baru sekitar empat tahun di Amerika. Internet juga masih dalam masa bayinya, dan buat mahasiswa Indonesia di Amerika saat itu ada dua jalur komunikasi via email. Satu lewat milis [email protected] yang diasuh oleh mahasiswa Berkeley waktu itu, bung Gani Yusuf; dan dari situ tumbuhlah milis parokinet yang anggotanya terutama dari mahasiswa Indonesia di Amerika dan beberapa negara lain. Kebetulan saya ikut sebagai beberapa anggota dari milis Indoneisan di Janus yang pertama kali menanggapi ajakan dari Romo Alex Widjojo saat itu untuk membentuk milis parokinet.

Ketika terjadi bencana gempa Maumere, pikiran saya sangat naif. Maumere itu sebagian besar penduduknya beragama Katholik. Ini bencana yang menimpa umat Katholik, pasti tak akan sulit mencari bantuan dari Gereja Katholik di Amerika saya pikir.

Atas bantuan teman-teman di Parokinet, kami menyusun konsep surat edaran, dan setelah jadi saya lalu membawa surat permohonan bantuan dari umat Paroki ke kantor Gereja di kota kami. Setelah saya jelaskan kepada Pastornya, beliau hanya bilang, itu urusan yang ditangani oleh Keuskupan bukan paroki lokal, dan urusan sumbangan begini biasanya diatur oleh organisasi sosial gereja, misalnya Catholic Charities. Begitu saja!

Itu pelajaran pertama mengenai meminta sumbangan dari Gereja Katholik di Amerika. Makanya begitu mengalami jalan buntu dalam upaya pengumpulan dana buat membantu adik kecil yang harus operasi jantung di Jakarta, saya tiba-tiba ingat kalau ibunya seorang pendeta. Barangkali aturan menyumbang gereja Protestan berbeda dengan di gereja Katholik saya pikir. Buktinya dua kali sumbangan saya dapatkan dari seorang teman kantor berasal dari umat gerejanya di Huntsville. Begitu juga sumbangan yang diusahakan almarhum om Gus Christiaan dari Gereja beliau di Dallas, Texas. Makanya saya lalu kontak seorang mahasiswa pascasarjana yang pendeta dari Jakarta dan lagi menyelesaikan program doktor beliau di Boston. Saya ingin tanyakan gereja mana yang kira-kira ada hubungan dengan Gereja di Timor, sehingga saya bisa telpon ke mereka mencari informasi buat mendapatkan sumbangan yang sangat dibutuhkan untuk operasi jantung ini. Lha begitu saya tanya, saya malah ditanya kembali, untuk apa? Saya lalu menjelaskan semua urusan pengumpulan dana sambil memberikan informasi yang bisa beliau temukan di blog bahasa Indonesia maupun blog bahasa Inggris saya. Dari kontak dengan beliau ini, akhirnya bukan urusan cari uangnya dari Gejeja di Amerika, karena pertanyaan beliau, kenapa tidak cari saja dari Gereja di Pondok Indah? Ceriteranya, setelah beliau tahu kalau dana itu untuk membantu biaya operasi dari anak di Timor, beliau sebutkan nama seorang anggota majelis yang punya kedudukan tinggi di Pemerintah Pusat dan berasal dari Timor, dan semua kegelisahan saya pun akhirnya bisa teratasi setelah kerja sama dengan pak Pendeta tersebut yang saya kenal juga lewat milis parokinet. Ceriteranya masih bisa dibaca di sini dalam bahasa Indonesia, atau di sini dalam bahasa Inggris. Itu ada beberapa posting hasil cari dari Google dan anda bisa pilih dari daftar postingan yang ada untuk mengikuti kisah pengumpulan dana sebelum blog itu menghilang.

Kesimpulannya, kalau kita terus usahakan sendiri, mungkin dana yang terkumpul tidak memadai. Tapi berkat bantuan teman pak Pendeta yang bisa membantu itu, maka seperti yang bisa terbaca dari berbagai postingan di atas, operasi adik itu sukses besar, dan sekarang adik itu sudah bertumbuh menjadi remaja yang sehat dan cantik.

Itu sebabnya saya anjurkan, kalau mau kejar orang untuk menyumbang dalam upaya penggalangan dana kemanusiaan anda, janganlah kejar teman anda, tetapi kejar dan tanyakan siapa teman-teman mereka yang bisa membantu dan punya dana untuk membantu. Itulah orang yang harus anda kejar. Begitu juga coba cari tahu kalau mungkin ada rumah sakit, atau badan sosial lain yang bisa membantu menangani proses pengobatan, operasi dll yang dibutuhkan.

Semoga usaha anda sekalian bisa berhasil.

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment