≡ Menu

Hawaii – Babak Baru Kehidupan Kami (2)

Kami tinggalkan Huntsville menuju Hawaii tepat sebulan yang lalu.

Sejak awal Januari kami berdua harus pindah ke hotel agar rumah kami bisa dikosongkan, ganti karpet dan perbaiki semua kerusakkan kecil setelah kami tempati lebih dari sembilan belas tahun agar rumah itu bisa dijual.

Suatu hal yang tak pernah terpikirkan bahwa untuk mengosongkan rumah kami ternyata butuh tiga bulan penuh. Itupun setelah dibantu tenaga sukarela dari gereja kami, yang memilah barang-barang kami ke dalam tiga kategori 3S. Sampah, Sumbang atau Simpan untuk dikirim atau dibawa kami ke Hawaii.

Anak-anak mengetawai kami sebagai hoarder atau penimbung barang apa saja. Banyak pendatang dari Asia mengidap penyakit ini. Di TV Amerika ada acara tentang betapa parah kehidupan para penimbun barang ini. Kebanyakan rumah mereka begitu penuh sesak sehingga sangat berbahaya untuk kesehatan maupun bahaya kebakaran.

Dalam refleksi di kala senggang, saya dan Winnie sempat mengingat kembali kalau ketika kami berangkat dari Salatiga dulu, berenam dengan keempat anak yang berusia 2 sampai sebelas tahun, kami hanya membawa empat kopor besar tambah kantong jinjing kedua anak yang sudah besar.

Mobil St Vincent de Paul dan mobil Winnie yang disumbangkan.

Setelah 29 tahun, satu kamar penuh buku, berbagai bahan fotocopy sejak zaman tugas akhir maupun penelitian sesudah kerja sempat bikin pusing. Buku sebagian besar disumbangkan ke Gereja termasuk buku teknis biar mereka yang pilah mau diapakan. Buku religius bisa masuk ke perpustakaan Gereja, lainnya bisa dijual waktu ada ‘rumage sale’ di Gereja untuk mencari dana, sedangkan buku teknik mereka akan sumbangkan ke instansi yang bisa memanfaatkan. Sedangkan referensi penelitian yang dengan jerih payah saya kumpulkan dan sangat saya senangi harus direlakan masuk ke mobil penghancur kertas. Mobilnya Winnie, perabotan rumah, alat dapur, peralatan untuk bersihkan halaman dan tetek bengek semua disumbangkan ke organisasi karitas seperti Toko murah St Vincent de Paul, Habitat for Humanity atau toko Good Will.

Mungkin ada yang bertanya, kenapa tidak dijual saja?

Jawabannya, tak ada waktu. Di rumah cuma ada saya dan Winnie dan saya butuh membantu Winnie di atas kursi roda sepanjang hari. Dengan bantuan teman-teman dari Gereja kami pun, butuh sekitar 3 bulan penuh untuk mengosongkan rumah.

Mobil Penghancur Kertas

Benar, anak-anak menertawakan. Hanya putra ketiga kami yang beberapa tahun lalu sempat menginjakkan kaki ke Kupang. Setelah kembali, dia sempat bilang ke saudara-saudaranya: Kalian butuh pergi melihat sendiri, betapa sederhananya keluarga papa dahulu. Dia merasa bahwa mereka beruntung bisa dibesarkan di Amerika dan merasakan kenyamanan kelas menengah di sini. Saya mengutip urusan ini, karena dalam kilas balik Winnie dan saya menyadari bahwa latar belakang kehidupan kami berdua dahulu itu yang menyebabkan kami selalu menimbum, dan pakaian sejak kami di Hokkaido dari 40 tahun lalu masih tersimpan rapi dalam kloset.

Itu semua yang membuat keberangkatan kami sampai tertunda dan baru sebulan lalu bisa tinggalkan Huntsville. Oh ya, waktu ketemu anak-anak dan bicara soal apartemen baru kami, mereka selalu ingatkan agar jangan menimbun lagi.***

{ 1 comment… add one }
  • Paul Lani April 22, 2018, 11:24 pm

    Orang Kupang pung biasa..dulu,bisa tukar pakaian dgn ayam..

Leave a Comment