≡ Menu

Hawaii (2)

Perjalanan dari airport ke apartemen I’ig tidak memakan banyak waktu.

Dari balkoni I’ig kami disuguhi pemandangan menarik sekali. Gedung pencakar langit di ujung lain lapangan golf serta lapangan golf hijua dengan pohon kelapa di antaranya, lalu Diamond Head atau gunung berbentuk kepala intan di sisi lain membuat kami, Winnie dan saya, hanya bisa terlongo.

Pemandangan ke arah Waikiki.

Nama Hawaii, Honolulu dan Pearl Harbor mulai saya kenal di sini. Waktu itu saya mungkin di kelas tiga atau empat sekolah rakyat atau SR zaman dulu yang bertempat di gedung tua ini. Itu sekitar tahun 1960-61.

Sebagai catatan, setelah tragedy 1965, sekolah Tionghoa kami ditutup seperti semua sekolah Tionghoa di seluruh Indonesia. Ada dua gedung sekolah kami, satu yang ini dikenal dengan nama Sekolah Lama, dan satunya lagi terletak di Jalan Cenderawasih sekarang yang dikenal sebagai Sekolah Baru untuk masyarakat Tionghoa Kupang saat itu.

Sekolah saya dari tahun 1957 - 1966.

Gedung SR Tionghoa Bonipoi, Kupang. Foto koleksi Hakka Kupang NTT.

Keduanya dipakai sebagai gedung sekolah negeri setelah diambil alih pemerintah orde baru, dan setelah zaman reformasi hanya gedung tua ini yang dikembalikan, sedangkan gedung atau Sekolah Baru ternyata menurut ceritera tidak dikembalikan dan tempatnya dibagi-bagikan untuk menjadi kios pedagang kecil. Saya tak tahu peraturan apa yang dipakai dalam pengembalian gedung sekolah ini.

Ada seorang pak guru, Zhang Guang Ing laoshi namanya, yang paling suka berceritera di dalam kelas. Entah lagi mengajar apa, tahu-tahu ceriteranya berubah jadi ceritera penyerangan Jepang ke Pearl Harbor. Tentu saja karena itu sekolah Tionghoa, jadi nama tempat semua disebutkan dalam huruf Tionghoa, dan Pearl Harbor menjadi 真珠港 (zhen chu gang) atau Pelabuhan Mutiara. Sedangkan nama Honolulu ternyata dalam huruf Tionghoa adalah 檀香山(tan xiang shan) atau gunung cendana.

Ceritera tentang pemboman mendadak Jepang itu sangat berkesan sampai setelah 56 tahun lebih nama itu masih membekas. Itu sebabnya begitu I’ig keluar kota dan tinggalkan kami selama lima hari di hari keempat kami di sana, tujuan pertama kami adalah Pacific Historic Parks (Taman Sejarah Pasifik) di Pearl Harbor.

Berikut ini adalah foto-foto yang kami sempat abadikan dari Taman Sejarah Pasifik termasuk kunjungan ke atas USS Arizona Memorial yang dibangun di atas bangkai kapal perang itu.

Di depan Papan Nama Tempat Sejarah Pearl Harbor.

Lonceng Kapal dari USS Arizona.

Menumpang Ferry menuju Gedung Peringatan USS Arizona.

Wajah duka menuju USS Arizona setelah melihat video penyerangan Jepang.

Denah letak gedung peringatan (warna putih) terhadap posisi USS Arizona.

Nama para pahlawan Amerika yang gugur dalam penyerangan itu serta nama para awak yang selamat dan meninggal kemudian.

Cerobong Kapal dari USS Arizona. Bangkai kapal ini sampai sekarang masih membocorkan tetesan minyak setiap hari yang meninggalkan film berwarna pelangi di permukaan laut disekitarnya.

Sambil menuruni tangga Ferry mendorong kursi roda Winnie, saya tak habis pikir kenyataan destruktif perang dan korban-korban yang jatuh akibatnya. Winnie sendiri juga sangat sedih sejak menonton video singkat tentang penyerangan Jepang hari itu, tanggal 7 Desember 1941. Video pendek ini disajikan sebelum kami menuju ke Ferry yang akan bawakan kami ke Gedung Peringatan USS Arizona yang sudah sering kami lihat di acara TV setiap peringatan penyerangan Jepang ini di Amerika sini.

Kami melihat taman yang luas, dengan pohon kelapa yang mengingatkan kami akan lagu Rayuan Pulau Kelapa. Tetapi dari seorang teman, kami ditanyai setelah melihat foto pohon kelapa di postingan kami sebelum mendarat di Honolulu yang kami taruh di Facebook. Mbak Belinda Gunawan menanyakan, apakah benar kelapa di Hawaii tidak berbuah. Belakangan, setelah tanya teman Indonesia yang sudah hampir 20 tahun tinggal di Hawaii baru kami tahu kalau benar, kelapa di Hawaii selalu dijaga supaya tidak berbuah. Begitu tampak ada pohon yang mulai berbuah, maka buahnya akan dibuang. Alsannya, takut kalau buah kelapa jatuh menimpa orang, siapa yang harus membayar ganti rugi, apalagi sampai kalau orangnya meninggal? Wah, dalam hati kami merasa sayang terus bertanya, lha terus bagaimana orang Hawaii mendapatkan kelapa muda ataupun air kelapa muda? Rupanya mereka harus impor dari pulau lain. Ini baru lain padang lain belalang. *

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment

Previous post: