≡ Menu

Hawaii (1)

Kedatangan kami ke Hawaii kali ini sama seperti kunjungan ke California dua bulan lalu. Tujuan kami adalah untuk menentukan putusan akhir, kemana akan kami tinggal di masa pensiun ini.

Terus terang, setiap kali bilang I’ig kerja di Hawaii dan kami mungkin akan ikut dia pindah ke sini, setiap teman yang kami bilangi selalu akan berkomentar, kalau kami beruntung, mereka juga ingin ikut kami atau berbagai kekaguman mereka akan kehidupan di Paradiso ini. Tapi kalau mau jujur, di dalam hati kecil saya ada perasaan takut pindah ke Hawaii.

Tiny islands in Pacifics Ocean

Hawaii dari Google Earth

Kalau lihat di Google Map, kepulauan Hawaii hanya berupa titik-titik bagaikan beberapa potong batu kecil berlumut disertai beberapa warna lain di atasnya di tengah lantai luas berwarna biru. Warna biru Samudra Pasifik yang seakan tak berujung. Apa yang bakal terjadi di saat musim taifun atau ada tsunami. Apakah pulau-pulau kecil ini dengan mudah tertelan ombak samudra? Belum lagi ada ceritera tentang gempa dan lahar yang aktif menyembur dari gunung api dari waktu ke waktu dari satu di antara beberapa pulau negara bagian ini. Itu sebabnya sebelum berangkat pun saya tak bisa langsung bilang, ya, kami akan pindah ke sana.

Seorang teman yang pernah tinggal selama tiga tahun di pangkalan tentara di Hawaii bilang kepada saya, nanti kalau sudah di Hawaii kamu coba jam 5 sore kamu menyetir dari downtown Honolulu dan kamu akan kaget kalau kemacetan lalin di sana tak beda dengan kota-kota besar di daratan Amerika.

Seorang teman lagi yang kini bahkan bekerja di salah satu Atol di tengah Pasifik meyakinkan saya bahwa kalau sudah di daratan Hawaii dan berada di tengah-tengah pulau, saya bakal tak punya perasaan kalau saya tengah berada di pulau kecil yang dikelilingi oleh Samudra Pasific.

I’ig sendiri semasa kuliah pernah bekerja dengan Program Bimbingan Anak Berbakat sebagai konselor dan oleh penyelenggara program ini di John Hopkins (Center for Talented Youth) dia pernah ditempatkan dua kali di Hawaii sehingga dia menyenangi kota ini. Makanya waktu melamar kerja selesai residensi kedokterannya, dia melamar dan diterima di salah satu bagian gawat darurat RS di Hawaii sesuai keahlian dia. Sedangkan kakaknya Ken ingin kami tinggal dekat dia di California. Dua-dua bukan pilihan kami karena termasuk kategori daerah mahal untuk kantong pensiunan dengan tunjangan pensiun yang tak seberapa. Tapi kami tak punya pilihan lain. Tinggal berdua jauh dari sanak-saudara, kalau saya harus masuk RS untuk observasi, siapa yang harus menunggu Winnie di rumah? Pembantu yang datang secara rutin 4 kali seminggu yang diusahakan anak-anak tak bisa begitu saja diminta datang kalau tidak dijadwalkan terlebih dahulu, padahal kadang misalnya kunjungan ke UGD kan tak bisa direncana jauh-jauh hari. Pernah saya ke UGD, dokter minta tunggu untuk observasi semalam, saya minta pulang saja. Dokter tak setuju tetapi setelah saya bilang Winnie di rumah sendiri, akhirnya saya diizinkan pulang karena hasil test negatif dan mereka hanya ingin pastikan hasilnya lewat observasi tambahan dan tidak mau langsung pulangkan saya.

Begitulah maka minggu kemarin setelah menginap semalam di Los Angeles Airpot (LAX), kami tiba di Hawaii pada hari minggu sore waktu Hawaii, yang lebih belakang 3 jam dari waktu Pasifik untuk daerah California dan daerah lain di pantai barat atau lima jam dibandingkan waktu daerah tengah Amerika seperti waktu di kota kami Huntsville. Berarti ketika orang sudah mulai masuk kantor jam 8:00 di Huntsville, kami di Hawaii masih jam 3 subuh.

Sebelum mendarat saya sudah senang tempat ini.

Hahaha, waktu pesawat masih mau mendarat saya sempat menjepret beberapa foto Honolulu dari udara, dan saya langsung taruh di Facebooknya Winnie karena saya pakai HPnya untuk memotret dan supaya cepat bisa postkan, saya bilang Winnie saya akan postkan foto itu atas nama dia di FB wallnya. Ini foto yang saya maksudkan. Saya tak menyangka bawa kami akan tinggal dan melihat pencakar langit dalam foto itu dari balik dinding kaca apartemen I’ig.

Pramugari United Airlines

Selain itu di pesawat saya juga melihat bunga kamboja di telinga salah seorang pramugari. Beberapa kali ingin saya jepret di pesawat tapi tidak ada kesempatan. Bunga itu mengingatkan saya akan beberapa pohon kamboja di sekitar rumah kami di Kampo Solor. Di samping itu setiap melihat bunga kamboja begitu saya ingat foto-foto yang teman Facebook kami mbak Rani penulis buku Titik Balik suka pasang di beranda Facebooknya dengan judul Kamboja mencumbu langit. Akhirnya baru di pintu pesawat saat menunggu Winnie didorong pakai Aisle Chair saya sempat memotret dia dan sempat tanya, kalau saya taruh di Facebook atau blog saya boleh nggak? Dia hanya tersenyum.

Dikalungi Lei oleh I’ig.

Di airport I’ig sudah menunggu kami dan sewaktu menunggu dia mengambil mobilnya dari tempat parkir, saya dan Winnie sempat berselfi dengan kalungan lei di leher kami.***(drt)

….(bersambung)

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment