≡ Menu

Hadiah Tahun Baru Imlek Buat Aci Mie

Ceritera tentang kapal Hongkong dalam postingan yang lalu mengingatkan saya akan kakak prempuan saya, yang di rumah kami panggil aci Mie. Dalam posting itu, saya berceritera bagaimana kami berdua pergi bersama ke Pelabuhan Kupang, dengan harapan saya bisa menjual burung Nuri kami, tapi malah hampir ketanduk sapi.

Sudah 40 tahun lebih aci Mie tinggal di Hongkong, setelah menikah dengan seorang mantan koki di salah satu kapal Hongkong, dua tiga tahun setelah saya kuliah ke Yogya. Di kemudian hari aci Mie harus membesarkan ketiga anaknya sendiri setelah suaminya meninggal.

Makan bersama keluarga Aci Mie

Kisah tentang aci Mie berisi berbagai drama kehidupan. Semua dimulai dari petualangan almarhum ipar saya yang nekat dan tinggalkan paspor di tangan kapten kapal, ketika kapten kapalnya tak izinkan dia turun di Pelabuhan Semarang untuk pergi menjumpai kakak saya.

Dia baru saja menyewa taksi dari Semarang mencari saya ke Yogya waktu kapal mereka berlabuh di Semarang. Saya pernah mengungkapkan sebagian ceritera ini di suatu postingan, Catatan Ziarah (5) di blog saya yang lain, makanya tak perlu saya ulangi di sini.

Dalam pertemua di Yogya, saya tidak senang pada kenyataan bahwa dia seorang awak kapal, dan dari pengalaman saya tahu setiap awak kapal turun ke Kupang, yang selalu mereka tanyakan, di mana tempat perempuan nakal. Makanya saya sempat ungkapkan ketidaksenangan saya, tatkala dia mengatakan dia akan ke Kupang untuk mempersunting kakak saya. Dalam pembicaraan itu saya sempat mengatakan kalau saya baru mendapat berita kalau kakak saya sedang sakit dan saya merasa dia adalah penyebabnya. Berdasarkan informasi itu seperti sudah saya ceriterakan di postingan yang saya sebutkan di atas, dengan bantuan seorang pengantar hewan asal Kupang yang ikut di atas kapal menuju Kupang, mereka berdua lalu naik bus dari Semarang ke Surabaya, terus terbang ke Kupang. Semua itu gara-gara kapal hewan tujuan Kupang itu akan dibelokkan dari Semarang ke Kalimantan karena berita adanya penyakit Antrax di Kupang.

Ceritera ini kadang membuat saya berpikir, mungkinkah kisah cinta mereka bisa dilayarputihkan? Ada begitu banyak drama berisi perjuangan gigih seorang pemuda yang jatuh cinta di Nan Yang atau lautan selatan dengan seorang gadis sederhana, dan mereka berdua harus mengatasi berbagai rintangan untuk akhirnya bisa menikah dan pulang bersama ke Hongkong. Hidup mereka penuh tantangan, dan perjuangan luar biasa mereka akhirnya dapat teratasi pada saatnya.

Buat yang ingin tahu, bagaimana seorang gadis keturunan Tionghoa asal Kupang, bisa kawin dengan seorang awak kapal Hongkong, bisa baca postingan saya dengan cara kilik sini.

Kali ini, di sini, saya ingin ceriterakan tentang salah satu hadiah tahun baru Imlek buat aci Mie.

Ketika saya menulis tentang Burung Nuri dan Kapal Hongkong, lalu postkan di Facebook, saya juga ‘tag’ aci Mie yang juga ada akun di Facebook. Sekitar jam 3:30 subuh, iPhone saya berdering sebentar menandakan ada pesan WA yang masuk. Ini jarang terjadi, kecuali kalau ada orang di Timor atau meeka di belahan bumi sana, yang tidak mengerti kalau waktu mereka di sana sedang siang hari, kami di sini masih subuh hari lalu seenaknya kirim SMS, WA atau bahkan kadang-kadang menelpon langsung. 😀

Bersama keluarga aci Mie waktu kami pulang dari Penang.

Begitu saya melihat ke iPhone, ternyata aci Mie sedang mengadu, kalau saya bikin dia menitikkan airmata membaca kisah ketika kami masih kecil. Saya harap postingan kali ini tidak membuat aci Mie menitikkan airmata lagi, tetapi membuat aci Mie tersenyum, membaca kisah keberhasilannya sebagai ‘single mother’, di tanah rantau, membesarkan ketiga putra-putrinya. Putri kedua, Ely, sempat menerima hadiah dari bagian pendidikan pemerintah Hongkong, sebagai guru sejarah luar biasa untuk tingkat sekolah menengah pertama di Hongkong tahun 2016 yang lalu.

Video dari eTVonline ini saya temukan di website stasiun TV Hongkong, RTHK. Mereka bicara dalam dialek Kongfu yang dipakai di Hongkong, sedangkan subtitle video dalam bahasa Mandarin, sehingga walaupun tak bisa berbahasa dengan dialek Kongfu, saya dan Winnie bisa mengerti apa yang mereka bicarakan lewat subtitle video ini.

Koleksi kepingan uang logam kuno. Photo Courtesy: RTHK Video

Sayang saya tidak punya waktu untuk menter-jemahkan seluruh subtitle, dan saya pikir tak perlu juga. Tapi secara garis besar ini adalah video yang dibuat oleh stasiun TV untuk memperkenalkan Ms. Chan, guru sejarah Tiongkok, tentang bagaimana dia mengajak murid-muridnya berpartisipasi dalam kegiatan belajar sejarah.

Paspor zaman dulu terbuat dari lempengan bambu. Photo Courtesy: RTHK Video

Caranya bermacam-macam, termasuk memasukkan berbagai barang loak yang ditemukan di pasar, berbagai bahan yang ditemukan dalam perjalanan ke berbagai tempat di Tiongkok yang ada kaitan dengan sejarah ke dalam kelas. Ada ceritera dari koin yang dipakai di zaman kuno, bentuk surat jalan yang ditulis di atas potongan bambu yang bisa dibandingkan dengan paspor zaman sekarang yang membangkitkan minat murid-muridnya, dan membuat Ely atau Ms. Chan sampai terpilih sebagai guru terbaik dalam bidangnya tahun itu.

Ada satu hal yang membangkitkan kenangan lama saya saat menonton video ini.

Ketika pertama kali almarhum mama saya bertemu dengan Ignasia, dari mulutnya langsung terlontar kata-kata sambil tersenyum bilang, ‘Bi Sila matan fuan!’

Saya tidak ingat persis, karena dalam otak saya ada kekaburan, apakah dalam bahasa Timor atas ‘possesive word’ seperti bahasa Inggris, jadi kalau di-inggriskan, kalimat di atas menjadi ‘Bi Sila’s eye balls!’

Iya, maksud mama saya, dia melihat kedua biji mata mamah mertuanya dalam bola mata cucunya.

Kalau buat putri saya, tak apalah. Tapi melihat mata ponakanku di Hongkong, tak terasa ada perasaan yang saya rasakan seperti ketika mama saya melihat cucunya untuk pertama kali. Ponakan saya kelahiran Hong Kong, papanya totok dari Hongkong, bukan seperti kami yang sudah bergenerasi tinggal di Indonesia dan dalam genetik kami sudah tercampur dengan gen Timor. Bola mata bahkan rambut anak-anak mereka, menunjukkan ada pengaruh gen Timor ini.

Dalam video juga diceriterakan, bagaimana Ely sangat bersimpati dengan murid dari keluarga tak mampu, mengingat dia dibesarkan oleh ibunya setelah ayahnya meninggal. Hal itu ditambah dengan kreativitas membuat pelajaran sejarah Tiongkok menjadi mata pelajaran yang menarik, tentu membuat kami yang merupakan bagian dari keluarga aci Mie, ikut bergembira bersama aci Mie.

Bersama Aci Mie dan keluarga Riki

Setelah pertemuan dengan aci Mie seperti yang saya ceriterakan dalam catatan Ziarah, saya sempat ketemu aci Mie lagi waktu putra pertama kami menikah di Australia, jadi aci Mie juga sempat ketemu dengan semua anak cucuku sampai waktu itu.

Tahun kemarin waktu berobat ke Pulau Penang, Malaysia, Winnie dan saya juga sempat singgah dan tinggal di Hongkong selama beberapa hari.

Tak lama setelah kami pulang ke Huntsville, dapat berita tentang hadiah yang diterima Ely di atas. Buat saya, itu salah satu hadiah tahun baru Imlek terindah dari putrinya buat aci Mie, untuk perjuangan seorang dirinya selama berpuluh tahun membesarkan mereka di rantau. Selain Ely, putri pertamanya Charity maupun adik lakinya Frank pun sukses dalam kehidupan bersama keluarga mereka masing-masing. Hal itu kami rasakan sendiri waktu dua kali mampir di Hongkong. Winnie sangat terkesan akan berbagai diskusi antara dia dan anak-anaknya aci Mie. Sebagai adik, Winnie dan saya, begitu juga keluarga aci Mie di Hongkong dan keluarga besar kami di Timor, ikut bergembira bersama aci Mie dan keluarganya di Hongkong atas penghargaan sebagai Guru Luar Biasa yang Ely terima dari pemerintah Hongkong ini. Segala sesuatu akan indah pada waktunya.*

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment