≡ Menu

Burung Nuri dan Kapal Hongkong

Di sekitar tahun 1960an, pelabuhan Kupang masih berfungsi penuh. Hanya di saat musim barat saja, yaitu musim angin kencang antara akhir Desember sampai sekitar bulan Februari, baru kapal-kapal yang masuk ke pelabuhan Kupang perlu berlindung ke pelabuhan Tenou, yang tertutup oleh Pulau Semau. Tapi tentu saja saat itu Tenou masih belum seramai sekarang.

Rumah Masa Kecilku dilihat dari Google Earth 2013,

Di samping ini adalah foto dari Google Earth di tahun 2013. Rumah kami (bulatan merah) yang kini ditempati adik saya dan keluarganya sekarang sudah dikelilingi oleh rumah-rumah dan hampir tak ada tanah kosong lagi. Padahal ketika kami pindah ke sana, di seberang jalan pun rumahnya tak seberapa. Yang saya ingat adalah rumah om Edu Mooy, seorang pemilik toko perbaikan sepatu. Lalu ada rumahnya Paman Lito, di sebelahnya rumah dupleks yang ditempati keluarga encek Lie Leang Nyan dan keluarga encek Liong yang lebih dikenal dengan nama om Jusuf Tjong. Om Jusuf seorang pejuang kemerdekaan, dan selalu mempunyai banyak ceritera tentang luka bekas tembakan di lehernya.

Jalan di depan rumah kami sekarang.

Kalau dibandingkan dengan keadaan saat sekarang, jelas jauh sekali perbedaannya. Dua foto di samping ini adalah foto dari Google Earth tahun 2016, di jalan besar di depan rumah kami. Jalan masuk ke rumah kami hanya terfoto dari samping, sehingga tidak kelihatan rumah kami di dalam sana, dekat ke pantai. Tapi syukurlah ada foto-foto dari Google Earth sehingga walaupun di jauh kami tetap bisa melihat foto kampung halaman, di setiap tempat yang dilewati mobil Google Earth.

Jalan Masuk ke rumah kami dari Google Earth, 2016.

Kapal Hongkong adalah jenis kapal pengangkut hewan yang akan diekspor ke Hongkong. Kalau saya ingat kembali, mestinya kapal itu belum tentu berasal dari Hongkong, tapi karena tujuannya Hongkong ya kami semua di Kupang menamakannya Kapal Hongkong. Padahal yang masih saya ingat jelas, kapal-kapal itu ada yang bernama San Ernesto, San Miguel yang berbau nama kapal-kapal dari Amerika Selatan. Tapi nama itu sudah diterima oleh masyarakat Kupang zaman itu dan saya juga menyebutnya kapal Hongkong. Tiga eksportir hewan saat itu adalah om Lie Tjan Nyan atau lebih dikenal dengan nama encek Ayan, lalu om Lie Tiau Pauw yang turunannya mengganti nama keluarga mereka menjadi Liwe, dan menurut pemilik Teddy Bar yang terkenal di Kupang dulu, om Kiu Tjung Fa yang lebih dikenal dengan nama encek Hoat Aka serta ayahnya Kiu A Ka adalah eksportir hewan pertama dari Kupang ke Hongkong di tahun 1950an. Tapi bukan eksportir hewan yang menjadi sasaran tulisan kali ini. Beberapa hari lalu saya melihat tulisan adik saya tentang keluarga Eklemes yang adalah tetangga kami semenjak ayah saya membawa kami tinggal di rumah sederhana yang sekarang dikenal dengan nama Jalan Garuda di daerah kampung Solor itu.

Waktu itu di daerah pantai tempat rumah kami seingat saya cuma ada rumah keluarga almarhum Haji Mahjan Amaradja, yang juga dikenal sebagai Temukung atau Lurah Kampung Solor. Kemudian rumah aba Mahjan dibangun menjadi bagian dari Losmen Hidajah, dan yang terakhir banyak dipakai sebagai ruko. Di samping rumah kami ada rumah paman Tanjo dan bi Jenab. Bi Jenab masih keluarga dekat dari ayah saya. Sampai sekarang anak cucu keluarga paman Tanjo masih tinggal di samping rumah adik saya.

Rumah kami termasuk di daerah pinggiran kampung Solor di tepi pantai membelakangi laut, seperti yang terlihat dalam foto pertama. Kami sudah tinggal di sana sejak tahun 1959, jauh sebelum ada bangunan lain termasuk bangunan pasar Kampung Solor yang kini sudah dipindahkan serta berbagai rumah lain yang kini memadati daerah pantai itu.

Selain ketiga rumah itu, ada lagi rumah dikenal dengan nama Los Pusmau, yaitu bangunan beratap ilalang tempat orang dari Pulau Semau datang menginap dan berjualan hasil bumi mereka seperti jagung muda, semangka atau di Kupang dikenal dengan nama Poteka, kayu api, arang, maupun hasil laut lainnya. Nah, rumah om Eklemes dan keluarganya menempati satu sisi dari Los atau juga dikenal dengan nama Pasar Pusmau. Kata Pusmau adalah singkatan ala Kupang buat kata Pulau Semau.

Om Eklemes adalah seorang bekas tentara KNIL Belanda, dan suka bercerita tentang pengalamannya di Ambarawa dan tempat lain di Jawa, kalau lagi berceritera di rumah kami yang merupakan toko kecil yang menyediakan berbagai keperluan buat para penduduk dari Pulau Semau. Waktu itu perahu dari Pulau Semau, bahkan Pulau Rote, dan berbagai daerah pantai lainnya seperti Sulamu, Pariti, dan Naikliu yang kalau ke Kupang pasti turun di pantai di belakang rumah kami, seperti perahu-perahu kecil yang terlihat dalam gambar pertama. Tapi setahu saya mereka sudah lama tidak diizinkan turun di situ lagi.

Gambar dari Google Earth yang menurut saya adalah lokasi Restoran Tionghoa di tahun 1960an.

Saya teringat om Eklemes karena beberapa hari lalu membaca nama anak-anaknya di postingan adik saya di Facebook. Pengalaman yang masih membekas hingga sekarang adalah pengalaman suatu sore di pelabuhan Kupang. Mungkin sekitar tahun 1962-3an. Waktu itu ada kapal Hongkong yang berlabuh, dan biasanya kami suka menjajakan barang-barang yang disukai para awak kapal Hongkong. Burung Nuri atau Kakak Tua adalah dua cendramata utama kami. Ayah saya akan membeli burung-burung itu dari orang Pusmau, dan burungnya cuma dirantai kakinya pakai rantai kecil ke sepotong kayu atau bambu kecil yang diberi gantungan dari kawat atau kayu yang berbentuk segitiga. Burung itu bisa berjalan bebas dari ujung ke ujung kayu sekitar 30 cm itu. Kadang diberikan kaleng tutup semir untuk tempat makanan atau minuman burung di kayu itu. Kalau tidak digantung di depan kedai kami, ya pas ada kapal Hongkong begitu kami akan bawa burungnya menuju daerah pelabuhan Kupang. Awak kapal Hongkong biasanya suka makan di Restoran Tionghoa, cikal bakalnya restoran Karang Mas sekarang. Kalau nasib baik bisa jual burung Nuri atau Kakaktua itu dengan harga yang lebih baik.

Nah, sore itu dengan ditemani kakak prempuan saya, aci Mie yang dua tahun lebih tua dari saya, kami berdua pergi ke pelabuhan, saya membawa seekor nuri dengan gantungannya dengan harapan bisa dijual ke awak kapal Hongkong. Waktu itu penjagaan pelabuhan tidak ketat, dan kami bisa masuk sampai ke ujung jembatan tempat penumpang naik turun ke kapal. Kebetulan saya mendapat lihat om Eklemes lagi menumpang sebuah sekoci yang akan menuju ke kapal Hongkong itu. Saya lalu berteriak, “om, beta ikut!” dan beliau mengangguk. Saya bilang ke aci Mie, biar tunggu nanti saya pulang baru kami sama-sama pulang terus cepat-cepat menuruni tangga jembatan menuju sekoci.

Waktu di kapal, kami berjalan dari satu ujung ke ujung lain, dan sapinya berjejer dalam kandang darurat dari besi dan tali sepanjang dua sisi kapal. Kepala mereka menjolor ke luar dan kami berjalan di celah antara kandang di dua sisi kapal itu. Tiba-tiba saya merasa ada yang mengangkat saya dari kerah baju saya, menarik ke belakang. Setelah berhenti sebentar, lalu ada yang mendorong kepala sapi di depan saya dengan mendorong tanduknya baru kami berjalan terus. Saya tidak merasa apa-apa, hanya orang di belakang saya itu yang bilang, ‘Bahaya sekali! Lu bisa mati, ditonggo itu sapi!’ Ditonggo maksudnya disundut pakai tanduk dalam bahasa Kupang.

Saya sudah melupakan urusan itu dan juga tidak ingat apakah burung nuri itu terjual atau tidak saat ini. Yang saya ingat waktu kembali ke darat, aci Mie tanya, kenapa bajuku sobek? Saya bingung juga.

Rupanya, waktu di kapal tadi, pas saya mau lewat, sapi didepan saya menggoyang kepalanya, dan gesekan tanduknya dengan bajuku yang membikin baju itu robek. Tapi saya sama sekali tak ingat akan hal itu, walaupun orang di belakang saya, yang lamat-lamat saya ingat bernama kak Jen dari desa Bonipoi di Kupang waktu di atas kapal setelah kejadian itu bilang, ‘lu bisa mati ditonggo itu sapi!’ Hm, kalau waktu itu ditonggo sapi, tentu sekarang anda tidak baca ceritera ini di sini. 😀

Sampai sekarang ingatan urusan baju sobek ini belum hilang. Saya lupa tanya pada ci Mie apakah dia masih ingat? Saya cuma ingat anggukan kepala om Eklemes membolehkan saya ikut. Om Eklemes dulu pemilik pak Laru atau lapo tuak di Los Pusmau. Ketika saya buat milis di yahoogroup sebelum Facebook menjadi populer di sekitar tahun 2001, saya namakan milis itu Pak Laru Bolelebo, tempat kami mengobrol dalam bahasa Kupang. Dan setiap bilang pak Laru, dalam hati saya sering ingat Pak Laru milik om Eklemes. Semoga beliau dan mereka yang sudah pergi dulu hidup dalam kedamaian abadi di sana.

Itu kenangan masa kecil dari Kampsolo, singkatan ala Kupang buat Kampung Solor, tempat saya menghabiskan masa remaja saya, yaitu masa remaja dalam keluarga sederhana. *

{ 1 comment… add one }
  • drt June 1, 2017, 12:46 am

    Ini foto jembatan di Pelabuhan Kupang yang saya ambil dari postingan Teddy Tanonef di Facebook. Dari ujung jembatan itu saya naik ke kapal Hongkong, sedang ci Mie keluar dan menunggu dekat rumah temannya yang punya studio foto di luar pelabuhan. Terima kasih koh Teddy buat foto ini.

Leave a Comment